Senin, 17 Desember 2018
Home/ Berita/ Haedar: Stop Kekerasan di Dunia Sepakbola Indonesia

Haedar: Stop Kekerasan di Dunia Sepakbola Indonesia

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA - Kita seluruh warga bangsa sedih dan pilu dengan terbunuhnya suporter sepakbola secara sadis dan mengerikan yang terjadi di Bandung dan sejumlah tempat akhir-akhir ini. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan karena lama kelamaan akan dianggap biasa.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, kekerasan apapun lebih-lebih yang melenyapkan nyawa manusia tidak dapat dibenarkan.

“Agama, Pancasila, dan budaya luhur bangsa Indonesia menentang keras perbuatan keji seperti itu,” tegas Haedar ketika dihubungi pada Selasa (25/9)

Islam menentang kekerasan, bahkan siapa membunuh satu nyawa sama dengan membunuh seluruh manusia, sebaliknya jika menyelamatkan satu nyawa sama dengan menyelamatkan seluruh manusia. 

Demikian halnya  nilai-nilai sepakbola dan olahraga apapun sebenarnya tidak membenarkan kekerasan jalanan dan anarki semacam itu.

“Kondisi kekerasan atau vandalisme di dunia sepakbola Indonesia termasuk gawat darurat. Hukum harus ditegakkan dengan keras dan tegas. Aparat kepolisian jangan ragu-ragu bertindak meskipun menghadapi kerumunan massa yang anarki, harus berani tegas seperti ketika menghadapi teroris,” jelas Haedar.

Haedar juga mengimbau agar pihak PSSI dan Kemenpora juga perlu mengambil langkah tegas dan berani agar mampu memutus matarantai kekerasan sadis di dunia sepakbola Tanah Air.

“Bila perlu sesuai kewenangan bekukan Liga Indonesia dan Klub yang melibatkan suporter-suporter anarkis itu. Jika penanganannya tambal sulam dan biasa saja akan mengulang tragedi-tragedi kekerasan serupa ke depan,” imbuh Haedar.

“Mau dibawa ke mana sepakbola Indonesia jika kekekerasan demi kekerasan berlalu seolah biasa. Saatnya mengambil langkah dan tindakan yang tuntas demi masa depan olahraga dan penyelamatan generasi bangsa Indonesia. Sepakbola dan olahraga harus dijiwai sportivitas dan cinta sesama. Bukan sebagai ajang saling bermusuhan,” pungkas Haedar. (adam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *