Senin, 10 Desember 2018
Home/ Berita/ Membangun Ghirah dalam Memajukan Persyarikatan

Membangun Ghirah dalam Memajukan Persyarikatan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, PEMALANG – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir pada Ahad (9/7) menghadiri tabligh akbar sekaligus peresmian gedung dakwah Muhammadiyah Pemalang.

Dalam tausyiahnya Haedar menyampaikan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi yang bergerak dalam hampir semua lingkup kehidupan, sehingga dibutuhkan energi dan kesungguhan berlebih.

“Maju mundurnya roda Persyarikatan itu tergantung penggeraknya, sekalipun mobil rodanya bagus, mesinnya bagus, olinya bagus, tapi kalau tidak ada yang menggerakkan maka tidak ada artinya,” tutur Haedar.

Haedar menyampaikan beberapa hal yang harus menjadi perhatian Muhammadiyah jika ingin terus bergerak.

Pertama, sibghah (celupan), sebagai organisasi Islam maka celupan jiwa kita harus Islam.

“Islam sebagai agama yang membawa pencerahan. Unggul dan memiliki daya saing, hal ini harus diperhatikan para pimpinan Muhammadiyah dalam menggerakan organisasi,” jelas Haedar.

Kedua, karakter dakwah Muhammadiyah harus terus di jalankan. Karakter dan kepribadian Muhammadiyah harus menjadi pegangan.  Ketiga, sikap wasathiyah Muhammadiyah harus tetap dijaga.

Ketiga, sikap wasathiyah Muhammadiyah harus tetap dijaga.“Muhammadiyah telah miliki gerak dakwah sendiri, maka gerak dakwah Muhammadiyah dibawa-bawa terlalu ke kanan dan terlalu ke kiri,” tegas Haedar.

Keempat, pimpinan harus punya ghirah untuk berbuat kebaikan. “Karena dakwah Muhammadiyah itu menyebarkan kebaikan, dan mencegah kemunkaran, jika tidak kita, siapa lagi,” jelas Haedar. Haedar juga berpesan keapda para pimpinan untuk mempunyai ghirah dalam memimpin.

“Para pimpinan harus miliki rasa ghirah dalam membangun organisasi, legowo dan mampu menerima masukan,” pungkas Haedar.

Kelima, Haedar turut mengajak warga Muhammadiyah untuk tetap menjaga ukhuwah dan kebersamaan. 

"Jangan memusuhi orang-orang abangan yang belum berislam. Ukhuwah harus terus dijalan,  jangan alergi dengan orang-orang yang berbeda. Justru di situlah ladang dakwah yang sebenarnya. Jangan melulu dakwah hanya di kalangan santri saja. Itu sudah biasa,” pungkas Haedar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *