Selasa, 16 Oktober 2018
Home/ Berita/ PP Muhammadiyah Imbau Khatib dan Muballigh Tidak Menjadikan Khutbah Idul Fitri sebagai Ajang Kampanye dan Propaganda Politik Praktis

PP Muhammadiyah Imbau Khatib dan Muballigh Tidak Menjadikan Khutbah Idul Fitri sebagai Ajang Kampanye dan Propaganda Politik Praktis

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid telah menetapkan Idul Fitri 1439 H jatuh pada hari Jumat Legi 15 Juni 2018 M.

Putusan tersbeut berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal, Ijtimak jelang Syawal 1439 H terjadi pada hari Kamis Kliwon14 Juni 2018 pukul 02:45:53 WIB. Tinggi bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta (f= -07°48¢  LS dan l= 110°21¢BT)= +07°35’20” (Hilal sudah wujud).

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengimbau umat Islam hendaknya melaksanakan ibadah sesuai sunnah Nabi Muhammad antara lain membayar zakat fitrah, memperbanyak membaca takbir, dan menunaikan shalat Idul Fitri.

“Diutamakan mengumandangkan takbir di masjid atau mushalla dengan pengeras suara yang bagus sebagai syiar Islam dengan tetap memperhatikan kenyamanan lingkungan dan menghormati masyarakat yang berbeda-beda keyakinan,” ucap Haedar seperti dikutip dalam siaran pers yang diterima redaksi pada Rabu (13/6).

Apabila melaksanakan takbir keliling hendaknya senantiasa dilakukan dengan baik, mematuhi aturan lalu lintas, menjaga ketertiban umum, dan berkoordinasi dengan kepolisian dan aparatur pemerintah yang terkait.

Selain itu, Haedar juga berpesan kepada segenap umat Muslim hendaknya menjadikan puasa dan ibadah Ramadhan serta Idul Fitri sebagai wahana untuk semakin meningkatkan kualitas iman dan taqwa, memperbanyak amal shaleh, memperluas ilmu pengetahuan, serta mengembangkan sikap dan tindakan yang berakhlak mulia.

“Baik elite maupun warga mari kita tampilkan keteladanan yang baik atau uswah hasanah sehingga kaum muslim di negeri ini menjadi rahmatan lil-‘alamin,” ucap Haedar.

Sementara Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti berpesan kepada para khatib dan muballigh hendaknya menyampaikan khutbah dan ceramah yang berisi ajakan agar umat Islam senantiasa berusaha melanjutkan amal shalih selama bulan Ramadhan secara lebih baik, meningkatkan ketaqwaan dengan berbuat ihsan, meningkatkan soliditas dan solidaritas sosial, serta memelihara kerukunan dan persatuan umat dan bangsa.

“Sampaikan pesan-pesan keislaman yang menyebarkan kedamaian, persaudaraan, kemajuan, dan mencerahkan. Para khatib dan muballigh hendaknya tidak menjadikan khutbah dan ceramah sebagai ajang kampanye dan propaganda politik praktis  serta tidak menyampaikan materi yang berpotensi menimbulkan kontroversi dan disharmoni sosial, politik, dan agama baik intern maupun antar umat beragama,” ujar Mu’ti.

Selain itu, Mu’ti berharap masyarakat hendaknya saling menghormati dan bekerjasama untuk terciptanya suasana ibadah yang tenang, aman, dan tertib.

“Masyarakat hendaknya  bersilaturrahim dengan saling mengunjungi dan kerelaan memaafkan untuk meningkatkan harmoni, kerukunan, persatuan, dan persaudaraan umat dan bangsa. Khusus dalam menggunakan media sosial hendaknya warga masyarakat semakin cerdas, dewasa, dan berkeadaban,” tutur Mu’ti.

Mu’ti juga mengajak masyarakat untuk dapat menggunakan media sosial sebagai ajang silaturahim, peduli dan berbagi, dan mengembangkan pengetahuan, seraya jauhi hal-hal yang menyebabkan kebencian,dusta, dan permusuhan agar kehidupan di masyarakat tetap terjaga dengan damai dan rukun.

Diakhir, Mu’ti mengimbau kepada pemerintah dan aparatur keamanan hendaknya membantu, menjaga, dan memfasilitasi umat Islam agar dapat melaksanakan ibadah Idul Fitri sesuai dengan keyakinan masing-masing dan merayakan berbagai tradisi masyarakat yang berkeadaban.

“Semua pihak diajak untuk menjadikan Ramadhan dan Idul Fitri sebagai momentum mengembangkan spirit keadaban dan kemajuan di segala bidang kehidupan menuju Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur,” pungkas Mu’ti. (adam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *